MAKALAH
ETIKA PROFESI
NAMA :
PANJI ROCKY PUTRA
NPM :
46113822
KELAS :
3DC02
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan
Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca
dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.
Harapan saya semoga
makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,
sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui
masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh
kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar............................................................................................... 1
Daftar
Tabel................................................................................................... 2
Isi
Tulisan....................................................................................................... 3
Etika Profesi.............................................................................. I
EUDEMONISME
Eudemonisme
merupakan salah satu filsafat moral selain hedonisme dan yang lainnya.
Eudemonisme berasal dari kata “ Eudaimonia” yang berarti kebahagiaan.
Pandangan ini berasal dari filsuf Yunani besar, Aristoteles (384-322 s.M).
Dalam bukunya , Ethika Nikomakheia, ia mulai dengan menegaskan
bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan. Bisa dikatakan
juga, dalam setiap perbuatan kita ingin mencapai sesuatu yang baik bagi kita.
Seringkali kita mencari suatu tujuan untuk mencapai suatu tujuan lain lagi.
Misalnya, kita minum obat untuk bisa tidur dan kita tidur untuk dapat
memulihkan kesehatan. Timbul pertanyaan apakah ada juga tujuan yang dikejar
karena dirinya sendiri dan bukan karena sesuatu yang lain lagi ; apakah ada
kebaikan terakhir yang tidak dicari demi sesuatu yang lain lagi. Menurut
Aristoteles, semua orang akan menyetujui bahwa tujuan tertinggi ini – dalam terminology
modern kita bisa mengatakan : makna terakhir hidup manusia – adalah
kebahagiaan (eudaimonia). Tapi jika semua orang mudah menyepakati
kebahagiaan sebagai tujuan terakhir hidup manusia, itu belum memerlukan semua
kesulitan, karena dengan kebahagiaan mereka mengerti banyak hal yang
berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa kesenangan adalah kebahagiaan, ada yang
berpendapat bahwa uang dan kekayaan adalah inti kebahagiaan dan ada pula yang
menganggap status sosial atau nama baik sebagai kebahagiaan. Tapi Aristoteles
beranggapan bahwa semua hal itu tidak bisa diterima sebagai tujuan terakhir.
Kekayaan misalnya paling-paling bisa dianggap tujuan untuk mencapai suatu
tujuan lain. Karena itu masih tetap tinggap pertanyaan : apa itu kebahagiaan?.
Menurut
Aristoteles, seseorang mencapai tujuan terakhir dengan menjalankan fungsinya
dengan baik. Tujuan terakhir pemain suling adalah main dengan baik. Tujuan
terakhir tukang sepatu adalah membikin sepatu yang baik. Nah, jika manusia
menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan baik, ia juga mencapai tujuan
terakhirnya atau kebahagiaan. Apakah fungsi yang khas bagi manusia itu ? apakah
keunggulan manusia, dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain ? Aristoteles
menjawab : akal budi atau rasio. Karena itu manusia mencapai kebahagiaan dengan
menjalankan secara paling baik kegiatan-kegiatan rasionalnya. Dan tidak cukup
ia melakukan demikian beberapa kali saja, tap[I harus sebagai suatu sikap
tetap. Hal itu berarti bahwa kegiatan-kegiatan rasional itu harus dijalankan dengan
disertai keutamaan. Bagi Aristoteles ada dua macam keutamaan : keutamaan
intelektual dan keutamaan moral. Keutamaan intelektual menyempurnakan langsung
rasio itu sendiri. Dengan keutamaan-keutamaan moral ini dibahas Aristoteles
dengan panjang lebar. Keutamaan seperti keberanian dan kemurahan hati merupakan
pilihan yang dilaksanakan oleh rasio. Dalam hal ini rasio menentukan jalan
tengah antara dua ekstrem yang berlawanan. Atau dengan kata lain, keutamaan
adalah keseimbangan antara “kurang “ dan “terlalu banyak”. Misalnya, keberanian
adalah keutamaan yang memilih jalan tengah antara sikap gegabah dan sikap
pengecut; kemurahan hati adalah keutamaan yang mencari jalan tengah antara
kekikiran dan pemborosan. Keutamaan yang menentukan jalan tengah itu oleh Aristoteles
di sebut phronesis (kebijaksanaan praktis). Phronesis menentukan apa
yang bisa dianggap sebagai keutamaan dalam suatu situasi konkret. Karena itu
keutamaan ini merupakan inti seluruh kehidupan moral.
PROFESIONALISME
A.
Pengertian Professional / Professionalisme
Profesional
adalah suatu paham yang mencitrakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja
tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan
rasa keterpanggilan-serta ikrar untuk menerima panggilan tersebut dengan
semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang
tengah dirundung kesulitan ditengah gelapnya kehidupan
(Wignjosoebroto, 1999). Biasanya dicirikan dengan orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Bisa juga dikatakan bahwa seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu menurut keahliannya, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk bersenang-senang maupun untuk mengisi waktu luang.
(Wignjosoebroto, 1999). Biasanya dicirikan dengan orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Bisa juga dikatakan bahwa seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu menurut keahliannya, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk bersenang-senang maupun untuk mengisi waktu luang.
Profesionalisme
biasanya dipahami sebagai suatu kualitas yang wajib dipunyai oleh setiap
eksekutif yang baik.
B. Ciri –
Ciri Profesionalisme
Kaum
profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada
diatas rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat,
tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam
rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang
kegiatan menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan
tercipta suatu kualitas masyarakat yang semakin baik.
Secara
garis besar cirri-ciri profesionalisme adalah :
1.
Punya
ketrampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan
peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan
dengan bidang tadi.
2.
Punya
ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka
didalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan
terbaik atas dasar kepekaan.
3.
Punya
sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi
perkembangan lingkungan yang terbentang dihadapannya.
4.
Punya
sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka
menyimak dan
menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam
memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya.
Tiga Watak
Kerja Profesionalisme
1.
Kerja
seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya
kehormatan profesi yang digeluti dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan
atau mengharapkan imbalan upah materiil.
2.
Kerja
seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas
tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang,
ekslusif dan berat.
3.
Kerja
seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral. Harus
menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang
dikembangkan dan disepakati bersama di dalam sebuah organisasi profesi.
Menurut
Harris [1995] ruang gerak seorang profesional ini akan diatur melalui etika
profesi yang distandarkan dalam bentuk kode etik profesi. Pelanggaran terhadap
kode etik profesi bisa dalam berbagai bentuk, meskipun dalam praktek yang umum
dijumpai akan mencakup dua kasus utama, yaitu :
1.
Pelanggaran
terhadap perbuatan yang tidak mencerminkan respek terhadap nilai-nilai yang
seharusnya dijunjung tinggi oleh profesi itu. Memperdagangkan jasa atau
membeda-bedakan pelayanan jasa atas dasar keinginan untuk mendapatkan
keuntungan uang yang berkelebihan ataupun kekuasaan merupakan perbuatan yang
sering dianggap melanggar kode etik profesi.
2.
Pelanggaran
terhadap perbuatan pelayanan jasa profesi yang kurang mencerminkan kualitas
keahlian yang sulit atau kurang dapat dipertanggung-jawabkan menurut standar
maupun kriteria profesional.
C.
Perbedaan Profesi & Profesional :
Profesi :
- Mengandalkan suatu keterampilan
atau keahlian khusus.
- Dilaksanakan sebagai suatu
pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).
- Dilaksanakan sebagai sumber
utama nafkah hidup.
- Dilaksanakan dengan
keterlibatan pribadi yang mendalam.
Profesional
:
- Orang yang tahu akan keahlian
dan keterampilannya.
- Meluangkan seluruh waktunya
untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.
- Hidup dari situ.
- Bangga akan pekerjaannya
Aliran Pragmatisme
Aliran ini menititkberatkan pada hal‐hal yang berguna dari
diri sendiri baik yang bersifat moral maupun material. Yang menjadi titik
beratnya adalah pengalaman, oleh karena itu penganut faham ini tidak mengenal
istilah kebenaran sebab kebenaran bersifat abstrak dan tidak akan diperoleh
dalam dunia empiris.
Aliran Naturalisme
Yang menjadi ukuran baik atau buruk adalah :
”apakah sesuai dengan keadaan alam”, apabila alami maka itu dikatakan
baik, sedangkan apabila tidak alami dipandang buruk. Jean
Jack Rousseau mengemukakan bahwa kemajuan, pengetahuan dan kebudayaan adalah
menjadi perusak alam semesta.
Aliran Vitalisme
Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran naturalism
sebab menurut faham vitalisme yang menjadi ukuran baik dan buruk itu
bukan alam tetapi “vitae” atau hidup (yang sangat
diperlukan untuk hidup). Aliran ini terdiri dari dua kelompok yaitu :
(1)
Vitalisme pessimistis (negative vitalistis) dan
(2)
Vitalisme optimistis.
Kelompok
pertama terkenal dengan ungkapan “homo homini lupus” artinya “manusia
adalah serigala bagi manusia yang lain”.
Sedangkan menurut
aliran kedua “perang adalah halal”, sebab orang yang berperang itulah (yang
menang) yang akan memegang kekuasaan. Tokoh terkenal aliran vitalisme adalah F.
Niettsche yang banyak memberikan pengaruh terhadap Adolf
Hitler.

0 komentar:
Posting Komentar